Merah, Hitam dan Putih

oleh -396 views

Aku menuruni tangga itu. Berhati-hati terhadap lantainya yang lembab sambil menyorot ruangan hampa di depan menggunakan senter. Bercak darah ada di mana-mana saat kuinjak permukaan paling bawah. Seketika, degup jantungku semakin cepat. Kurengkuh hoodie hitam yang menempel di tubuhku pada bagian dada. Perasaan ini tak pernah membuatku bosan.

Pandangan mataku tertuju pada pria muda yang kedua tangannya terantai. Dia menatapku. Penuh kehampaan, tetapi ada sedikit kebencian di sana. Rambut pendek hitamnya lepek. Tubuh yang begitu ramping dan jenjang tak henti-hentinya membuat diriku kagum sejak pertama kali melihatnya.

Ini sedikit mengingatkanku pada malam itu. Merah, hitam, dan putih.

“Sepertinya kau menikmati kehidupanmu yang bahagia dan harmonis itu.” Dia mendesis. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat bulu kudukku meremang.
“Wah, wah,” aku mendekat ke arahnya, “Iblis seperti dirimu bisa iri juga rupanya.”

Iblis itu tertawa hampa. “Bagaimana tidak? Malam itu, kau membawa dan mengurungku di sini. Kau terus menyiksaku dan tidak pernah merasa puas. Dan, haruskah aku berkata, ‘terima kasih, Val. Kau telah membuatku mengerti apa itu neraka yang sesungguhnya’. Kau bodoh jika berpikir seperti itu.”

No More Posts Available.

No more pages to load.