Mereka yang Pulang Terakhir

oleh -209 views
Hermanto

Lastri, perempuan lain yang saya temui di belakang pasar, berkata sambil memandangi tangannya yang kasar,

“Saya ingin berhenti. Tapi kalau saya berhenti, anak saya makan apa?”

Ia tak berharap banyak. Tidak ingin jadi pegawai negeri. Tidak ingin terkenal. Hanya ingin hidup seperti orang lain: bangun pagi, kerja, makan, tidur, ulangi esok hari. Tapi hidup tak selalu datang seragam. Hidup baginya adalah belajar tidur dengan hati gelisah dan bangun tanpa harapan yang baru.

Mereka tak memimpikan malam. Mereka hanya terjebak di dalamnya.

Saya percaya, perempuan-perempuan seperti Rini dan Lastri bukanlah aib. Mereka adalah bukti bahwa kita gagal menyiapkan ruang yang adil untuk semua. Bahwa pembangunan hanya menyentuh mereka yang bersuara, bukan yang bersabar. Bahwa pertumbuhan ekonomi hanya menjadi angka, bukan penghidupan.

Jika negara benar hadir, seharusnya kehadiran itu tidak hanya berupa pagar dan palu segel. Kehadiran harus dimulai dari mendengar. Dari bertanya, “Apa yang bisa kami bantu agar kamu tidak perlu begini terus?” Dari mengubah program pelatihan menjadi sistem pendampingan. Dari mengganti stigma menjadi solidaritas.

Baca Juga  6 Cara Atasi Putus Cinta di Usia 30-an, Beri Waktu untuk Berduka

Saya percaya: mereka tidak butuh diselamatkan. Tapi mereka pantas diberi pilihan.

No More Posts Available.

No more pages to load.