Seperti sudah saya kemukakan, sifat-sifat atau karakter ini yang tidak hadir dalam laku elit dan kader partai ini di Maluku. Tidak hadirnya sifat-sifat tersebut praktis menimbulkan pertanyaan: mengapa?
Dalam wacana publik, karena laku bias ini ada saja yang menggunakan diksi “wong gede” vis a vis “wong cilik” sebagai bentuk kekesalan atau kekecewaan terhadap retorika dan klaim warga PDI-Perjuangan sebagai partai wong cilik.
Bias laku elit terutama mereka yang lagi-lagi di internal PDI-Perjuangan dikualifikasi sebagai “petugas partai” yang mengantar saya menggunakan diksi metaforik tandingan “tedong”.
Mengapa, karena ada kesejajaran sifat-sifat atau karakter seperti malas, makan melulu, pamrih, dan seterusnya hadir dalam laku elit dan terutama para petugas partai ini.
Terlampau banyak fakta empirik yang dapat dirujuk untuk menguji diksi metaforik tedong yang saya gunakan. Jadi misalnya, tahun lalu menjadi head line sejumlah surat kabar lokal yang memberitakan janji proyek kepada begitu banyak kontraktor yang konon sudah memberi duit.
Harusnya dugaan laku kader seperti ini patut ditangani secara internal karena potensial merugikan partai ini. Seyogianya patut dibentuk komite disiplin partai untuk menguji kebenaran dugaan yang rame sekali diberitakan media massa.











