Natal di Tengah Bangsa yang Angkuh

oleh -457 views

Betapa tidak, Allah memilih Maria seorang perempuan desa berusia kurang lebih 14 tahun yang sederhana untuk menjadi Bunda Yesus. Pilihan kepada Maria bukan tidak menimbulkan kontroversi. Dengan memilih Maria dan kemudian mengandung dari Roh Kudus bukan saja menimbulkan pergunjingan di masyarakat karena kemudian Maria dipandang masyarakat pada waktu itu sebagai perempuan hamil tanpa suami. Hukuman pada waktu itu cukup berat bagi perempuan yang melakukan perzinahan.

Berita kelahiran Yesus di kandang Betlekhem pun akhirnya terdengar oleh Herodes Raja bengis di wilayah Galilea yang tidak mau kekuasaannya ditandingi oleh Yesus Juru Selamat. Herodes pun membuat perintah agar semua bayi laki-laki ditumpas. Maka Yesus yang masih berupa bayi merah terpaksa diungsikan ke Mesir bersama kedua orangtuanya. Kisah ini bukannya tanpa rencana dan campur tangan Allah. Bangsa Israel dahulu mengungsi ke Mesir ketika terjadi kelaparan dan kemudian beranak pinak di sana.

Baca Juga  Danantara vs Korporasi: Untung atau Buntung?

Kisah Yesus pun seakan menggenapi kisah para nabi pendahulu-Nya. Hingga pada akhirnya Yesus pun harus mati di kayu salib sebagai puncak karya penyelamatan. Kisah-kisah perjanjian lama dan baru ini mencerminkan manakala karya penyelamatan Tuhan tidak selalu dilampaui dengan mulus. Ia mengalami ketegangan karena hadir di tengah bangsa yang angkuh dan congkak. Selalu ada ketegangan antara janji dan pemenuhan janji. Selalu ada ketegangan antara penyelamatan itu sendiri dengan tindakan manusia yang bergelimang dosa.

No More Posts Available.

No more pages to load.