Lalu, apa hubungan ngokop bareng dengan kekompakan sebuah kabinet? Hubungannya terletak pada prinsip berbagi tanggung jawab.
Dalam kelompok santri, kebersamaan diuji ketika makanan terbatas dan setiap orang harus memperhitungkan bagian temannya. Dalam pemerintahan, kekompakan diuji ketika anggaran terbatas, kepentingan bertabrakan, dan keputusan membawa konsekuensi bagi jutaan warga.
Bayangkan sebuah kabinet yang selalu mengaku kompak, tetapi setiap kementerian sibuk mengamankan anggarannya sendiri. Bayangkan para pejabat yang tersenyum dalam rapat, tetapi saling melempar tanggung jawab ketika program gagal.
Bayangkan pula pemerintah yang mengumumkan keberhasilan swasembada pangan, sementara petani masih menghadapi persoalan harga, distribusi, pupuk, dan kepastian pasar.
Dalam keadaan seperti itu, seruan kekompakan hanya menjadi musik pengiring presentasi.
Kekompakan yang berguna menuntut pembagian kerja yang jelas, keterbukaan informasi, kesediaan mengoreksi kesalahan, dan keberanian menyampaikan perbedaan pendapat. Menteri yang menemukan kelemahan kebijakan koleganya harus dapat mengatakannya tanpa takut dicap merusak soliditas.
Presiden pun perlu memberi ruang bagi kritik internal. Tim yang sehat tidak selalu berbicara dengan satu suara; mereka menyatukan langkah setelah menguji keputusan melalui argumen dan data.











