Tradisi pesantren dapat menyumbangkan pelajaran sederhana di sini. Ketika orang berbagi hidangan, mereka belajar bahwa kepentingan pribadi perlu mempertimbangkan kepentingan bersama.
Pemerintah dapat menerjemahkan prinsip itu ke dalam mekanisme yang konkret: membuka data pelaksanaan program, mengumumkan indikator keberhasilan, memeriksa hasil secara independen, dan menindaklanjuti temuan tanpa pandang jabatan.
Dengan begitu, publik dapat menilai kekompakan melalui hasil kerja, bukan hanya melalui bunyi pidato.
Tentu saja, pemerintah tidak perlu menyelenggarakan upacara ngokop bareng di Istana untuk membuktikan solidaritas. Kita juga tidak membutuhkan lomba minum dari satu mangkuk antarkementerian.
Cukup pastikan setiap kementerian memahami tugasnya, berbagi data yang diperlukan, menyelesaikan persoalan lintas sektor, dan bertanggung jawab atas hasilnya. Kalau sebuah program gagal, jangan sampai para pejabat sibuk mencari siapa yang harus menanggung malu, sementara rakyat menanggung akibatnya.
Kata kokopan boleh menjadi bahan tertawaan. Kata ngokop boleh mengingatkan kita pada tradisi yang masih hidup di sejumlah lingkungan pesantren. Namun, percakapan ini akan kehilangan nilai jika kita berhenti pada permainan bunyi.










