Nilai sesungguhnya baru tampak ketika pembagian berlangsung, kepentingan bertabrakan, dan seseorang harus memilih antara mengambil lebih banyak untuk dirinya atau menyisakan bagian bagi orang lain.
Barangkali, begitulah seharusnya kekompakan itu: makan kumbulan sesenampan, ngokop berbarengan, dengan wajah ceria dan hati bahagia.
Lalu, setelah kembali ke Istana, bekerja dengan semangat yang sama agar rakyatnya pun bisa bercengkerama, tertawa, dan berbahagia.
Sebab, apa gunanya para pemimpin kompak menikmati hidangan jika rakyatnya masih harus berebut remah-remah kemakmuran?
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 24/10/2026











