Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Kata kokopan mendadak naik pangkat. Dari kosakata daerah yang biasa beredar di dapur, sumur, dan lingkungan pesantren, ia masuk ke panggung politik nasional. Pemantiknya, pidato Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna, 21 Oktober 2026.
“Saya ingin mengucapkan kokopan … kekompakan teamwork yang saudara-saudara…” kata Prabowo Subianto. Telinga semua pendengar menangkap bunyi yang jelas: “kokopan”. Prabowo memakai istilah itu untuk menyampaikan apresiasi atas kekompakan timnya.
Media sosial segera bekerja. Potongan video beredar, lelucon bermunculan, dan sebuah kata lokal mendapat tiket gratis menuju percakapan nasional. Kalau pun Prabowo menyebutnya secara kebetulan, tapi itu jelas berasal dari kamus di memorinya.
Bahasa memang sering punya nasib seperti itu. Kata yang puluhan tahun hidup tenang di kampung tiba-tiba menjadi selebritas setelah tersenggol mikrofon pejabat. Orang tertawa, orang menebak-nebak, lalu orang mencari artinya.
Namun, di tengah keramaian itu, kawan saya, Agus Basri, sesama wartawan ketika kami bekerja di Majalah Berita Mingguan TEMPO, menyampaikan cerita yang membawa pembicaraan ini ke wilayah lebih menarik: tradisi makan dan minum bersama di pesantren.











