Pada Temaram Malam

oleh -1,187 views

“Tahukah kau, Amaranggana?” Bhanu mengangkat dagu Amaranggana lembut, arah mata gadis itu menuju mata Bhanu, “Amaranggana adalah satu-satunya wajah yang tersimpan dalam setiap helaan napas Bhanu. Amaranggana adalah bidadari mata indah yang menemani hari-hari Bhanu selama 21 tahun ini. Sejak kecil, Amaranggana tak pernah bermain sendiri, bukan? Selalu ada Bhanu yang menemani Amaranggana.”

Jelas sudah bulir bening itu tampak di sudut mata Amaranggana. Demikianlah Bhanu yang Amaranggana kenal sebelum hari ini, tak pernah ada kata aku kau, aku kamu. Ia selalu menyebut Amaranggana, tak pernah hanya Amara atau Ana seperti kebanyakan orang yang mengenalnya. Jadi, jika baru saja Bhanu mengucapkan kalimat itu, kalimat tanpa aku kau, tanpa aku kamu, itu artinya Bhanu sedang ingin memberi tahu, bahwa ia tetap Bhanu-nya Amaranggana.

Baca Juga  Tata Ruang Ambon Disorot, Dari Harmoni Sosial hingga Ancaman Kesehatan Mental

“Bhanu, maafkan aku,” kata Amaranggana pelan, ada sedikit isak.
“Hey, Amaranggana, jika kata maaf kau ucapkan, itu artinya kau salah. Tidak Amaranggana, tidak, kau tidak salah. Dunia sedang tidak ingin berpihak padaku, padamu, pada kita. Cinta di setiap darah dan tulang belulangku sedang diuji, aku tengah diingatkan oleh bumi yang sedang kupijak, bahwa apa yang kuinginkan, tidak selalu harus menjadi ada, tak harus selalu menjadi kepunyaanku.

No More Posts Available.

No more pages to load.