Pada Temaram Malam

oleh -1,189 views

“Bhanu…” Amaranggana meminta jawaban.
“Amaranggana, puisi-puisi yang pernah kau baca itu, yang kukirimkan tiap malam purnama dengan mengetuk jendela kamarmu itu, selalu kutulis dengan rasa, ia tercipta setelah kepingan kisah kau dan aku, ia ada karena kau ada. Bagaimana bisa aku menulis puisi, jika tak ada Amaranggana? Jika tak ada binar mata indahmu? Amaranggana, puisi-puisi itu adalah kau.”

Amaranggana kembali tertunduk dalam diam. Sebenarnya ia tak ingin menitikan air mata, demi menghargai cinta Bhanu yang tak pernah pupus digilas waktu, namun ia tak sanggup, ia membiarkan air mata itu mengalir, air mata itu untuk Bhanu yang pernah menawarkan kasih selembut tutur katanya.

Baca Juga  Perbuatan Kaum Nabi Luth yang Disebut Rasulullah Akan Muncul Lagi di Akhir Zaman

“Bhanu…” kata Amaranggana lirih seraya meraih tangan kanan Bhanu. Digenggamnya telapak tangan kanan Bhanu dengan kedua telapak tangan Amaranggana. Disentuhkannya tangan Bhanu ke pipinya, kemudian Amaranggana menciumi punggung telapak tangan Bhanu. Ada air mata yang jatuh ke tangan kekar itu.
Tubuh Bhanu bergetar, tetapi ia membiarkannya.

“Malam ini Bhanu. Malam ini, ambilah kesucianku, aku bersedia menyerahkannya padamu, Bhanu,” kemudian tangis Amaranggana pecah dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Bhanu, mendekapnya erat.

No More Posts Available.

No more pages to load.