Pada Temaram Malam

oleh -1,126 views

“Amaranggana…” bisik lembut Bhanu di telinga Amaranggana, sambil melepaskan pelukannya dan dengan lembut perlahan mendorong tubuh Amaranggana. Tangan kiri Bhanu meraih bahu kanan Amaranggana, tangan kanannya dibiarkan kembali digenggam gadis itu.

“Amaranggana, tatap aku,” pinta Bhanu lembut.
Amaranggana menggeleng pelan, ia tak mampu menatap wajah Bhanu, tangisnya menderas. Bahunya naik turun. Matanya terpejam.

“Amaranggana, buka matamu. Tatap mataku, sejenak saja,” Bhanu kembali meminta. “Benarkah ucapmu tadi? Bersediakah? Relakah? Tak salahkah pendengaranku?”
Amaranggana membuka matanya, melihat wajah Bhanu, menatap matanya, kemudian mengangguk pelan, “Iya Bhanu. Tak apa. Aku bersedia, Bhanu.”

Bhanu melepaskan tangan kirinya dari bahu Amaranggana, menarik tangan kanannya, menjauh beberapa langkah dari Amaranggana. Bhanu memutar tubuh membelakangi Amaranggana, sambil kedua tangannya menarik rambutnya sendiri ke belakang. Wajahnya mendongak, menatap langit. Tak ada bintang!

Amaranggana diam terpaku, hanya mampu menatap punggung Bhanu. Ia sadar kalau ia salah. Bhanu marah, dan ia tahu, jika marah, Bhanu tak akan langsung marah di hadapannya.

Baca Juga  Nissan Kicks Terbaru Meluncur, Harga Mulai Rp 300 Jutaan

Bhanu menarik napas, matanya tetap menatap langit.
“Wahai, batu karang!” teriak Bhanu tidak begitu keras, “wahai ombak lautan, kenapa langit tak kau biarkan sunyi. Biar kudengar suara jiwa. Agar gelisah tak meronta. Wahai langit hitam, lihatlah aku, lelaki sial ini, lelaki hina tak bermahkota. Lelaki nestapa yang bersembunyi di ruang hitam bernama kekalahan. Demikianlah bidadariku memandangku, mengiranya cinta sepenuh jiwaku ini, hanyalah tentang berahi. Kutuklah aku, wahai temaram malam, jangan diam saja!”

No More Posts Available.

No more pages to load.