“Kemana hendakmu sesungguhnya, Bhanu?” tanya Amaranggana masih terisak.
“Amaranggana, seperti yang pernah aku katakan, tempat itu kuberi nama kesunyian, ia bisa berada di mana saja. Atau bahkan, bisa jadi ia hanyalah sekadar kehampaan yang kuciptakan dari ilalang dan sajak-sajak.”
“Bhanu, bisakah kau tak harus meninggalkan aku?” Amaranggana meraih lagi kedua tangan Bhanu, “sesungguhnya setiap aliran darahku, dan dengan udara yang kuhirup, memintamu untuk tetap di sini, Bhanu. Dalam hidupnya, Amaranggana tak pernah membayangkan tiap detiknya tanpa wangi tubuh Bhanu.”
Bhanu menatap Amaranggana dengan dalam. Dipegangnya kedua bahu Amaranggana dengan lembut.
“Wahai jiwaku Amaranggana, kau akan menjadi cerita dari sekumpulan kisahku yang tersimpan dalam kertas jingga atau selembar pelepah. Kau akan menjelma serupa camar dan desir pantai. Berbahagialah kau di sini, Amaranggana. Kutitip rindu di hati putih milikmu, seperti butiran tasbih yang tak henti berputar pada semesta. Tak lekang pun tak luluh.”
—
Masih terdengar kalimat-kalimat indah Bhanu yang Amaranggana ingat pada pertemuan terakhirnya itu. Persis di sini, malam itu, di tempat ini, lima tahun lalu.
“Ma, Bhanu lapar, ma…” bocah kecil itu meraih tangan kiri Amaranggana, mengajaknya pulang.
“Baik, nak. Kita pulang ya…” ujar Amaranggana seraya meraih pula uluran tangan lelaki berkacamata yang tadi berdiri di samping anaknya, “maafkan aku mas…”
Senyum dr. Faras Hirawan mengembang, kemudian mengangguk, “Tak apa, Amara…”











