Paradoks Kesalehan Ramadan: Antara Ritual Perut Kosong dan Syahwat Kuasa

oleh -286 views

Kesalehan administratif pun marak: puasa sah secara fiqh, nihil dampak sosial. Disiplin sahur, lalai jujur saat meneken kebijakan. Padahal, ketakwaan bukan sekadar memindahkan jadwal makan. Kesalehan sejati adalah integritas saat tak ada yang melihat. Jangan sampai rajin tahajud, tetapi siang hari menandatangani kebijakan yang memiskinkan rakyat.

Puasa Nafsu, Bukan Sekadar Puasa Makan

Tantangan terbesar bukan perut kosong, melainkan ego yang lapar. Ramadhan seharusnya menjadi rem bagi lust for power. Ironis melihat mereka yang kuat menahan haus, tetapi tetap haus menjarah aset negara demi kenyamanan dinasti.

Kita diajari imsak—menahan diri. Jika menahan gorengan bisa, seharusnya menahan suap lebih bisa. Jangan sampai mulut terkunci dari makanan, sementara lidah memfitnah dan tangan sibuk “mengamankan” proyek. Puasa adalah latihan menjadi tuan atas nafsu, bukan budaknya.

Empati: Jangan Dijadikan Komoditas

Rasa lapar semestinya melahirkan empati sejati, bukan konten musiman. Kepedulian sosial harus berkelanjutan, bukan dekorasi menjelang pemilu. Menyantuni anak yatim dengan kamera siaga bukan ibadah—itu eksploitasi. Charity is not a photo op. Ramadhan mengajarkan bahwa lapar kaum miskin nyata sepanjang tahun.

No More Posts Available.

No more pages to load.