Paradoks Kesalehan Ramadan: Antara Ritual Perut Kosong dan Syahwat Kuasa

oleh -305 views

Muhasabah: Berhenti Menunjuk Keluar

Penyakit akut kita adalah mahir menghakimi orang lain, namun menjadi pembela paling gigih untuk diri sendiri. Muhasabah menuntut cermin, bukan kambing hitam. Jangan menunjuk jari ketika tangan sendiri kotor. Hisablah diri sebelum kelak dihisab.

Sederhana vs. Flexing Berjamaah

Bulan prihatin kerap berubah menjadi festival konsumerisme. Buka bersama menjelma panggung flexing. Kesenjangan yang dipamerkan di tengah kesulitan rakyat adalah sumbu pendek menuju kecemburuan sosial. Syukur itu sunyi; kesombongan berisik. Bersahajalah—tanpa melukai.

Penutup

Ramadan bukan ajang mengganti casing religi, melainkan momentum overhaul mesin ruhani. Ia bukan pula “cuci dosa” tahunan untuk melegitimasi penindasan sebelas bulan berikutnya. Jangan biarkan puasa menyisakan lapar dan dahaga belaka, atau menjadi jeda singkat di antara dua kemunafikan.

Baca Juga  Lerai Bentrok Pemuda di Dobo, Personel Polisi Terkena Panah

Kesalehan yang kita cari bukan pada dahi yang menghitam saat sujud, melainkan pada tangan yang bersih dari penjarahan hak rakyat. Bangsa ini lelah pada orang pintar yang rajin beribadah, namun gemar “mencuri” saat berdiri.

Wassalâmu ‘alâ man ittaba‘al hudâ wa a‘mala ‘aqlahu bil haq.

Tangerang Selatan, 17 Februari 2026

No More Posts Available.

No more pages to load.