Pela Gandong dan Moderasi Kebudayaan “Menggugat Kesadaran dan Slogan Hidup Orang Basudara”

oleh -696 views

Maluku gempar. Ketakutan akan kembalinya konflik bernuansa agama seperti yang pernah terjadi pada 1999-2004 terulang kembali. Sebab pasukan penyerang adalah muslim. Sementara Negeri Kariuw adalah kristen. Maka meme cinta damai bertebaran di sosial media. Katanya itu inisatif pemerintah. Maluku harus damai, stop konflik berbau SARA.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Orang-orang mencari tahu. Apa penyebabnya. Konflik tak mungkin berdiri sendiri. Api tak mungkin berkobar jika tak ada pemantik. Tak mungkin warga Ory pergi begitu saja menyerang jika tak ada masalah. Tentu, pasti ada masalah, ada penyebabnya.

Lalu silih berganti pemberitaan investigasi media tersebar di media massa, juga maya. Semua terjadi karena tapal batas. Tapal batas antar Negeri Kariuw dengan Negeri Pelauw.

Baca Juga  Gempa M 4,5 Guncang Barat Jailolo, BMKG: Dangkal dan Tanpa Potensi Tsunami

Jika sudah terkait batas Negeri, maka itu erat hubungannya dengan identitas, dengan hak Ulayat, dengan adat masing-masing Negeri.
Belakangan, masing-masing warga Ory, juga Pelauw dan Kariuw saling menyerang argumen di sosial media; tentang adatnya, ulayatnya, dan bahkan sejarahnya. Pihak mana yang absah, dan mana yang tidak. Keduanya sejauh ini masih jauh dari kata objektif. Masing-masing mengklaim yang empunya tanah yang disengketakan. Sebelum Negara menjadi penengah, masalah masih terus bergulir, berputar dalam kondisi tak menentu.

No More Posts Available.

No more pages to load.