Pela Gandong dan Moderasi Kebudayaan “Menggugat Kesadaran dan Slogan Hidup Orang Basudara”

oleh -694 views

Hidup orang basudara harus dimaknai melampaui batas-batas negeri, batas tanah, batas agama, bahkan juga sejarah. Katong basudara harus dimaknai sebagai kesadaran yang mampu menyingkirkan sekat-sekat persekutuan eksklusif yang hanya terdiri dari satu dua suku atau negeri. Katong basudara harus didudukan sebagai persekutuan kemanusiaan, dan bukan selain itu. Jika kita membangun persekutuan kemanusiaan, sementara nilai kemanusiaan lepas dari batas-batas teritori, agama, suku, apalagi negeri, maka kita akan maju satu tingkat. Kita akan memosisikan semua negeri; apakah dia Jazirah Leihitu-Salahutu, Hatuhaha, Saparua, Seram, Tenggara, Buru, Banda, sebagai satu Negeri, yakni negeri Maluku. Kita juga akan memandang semua manusia; entah ia Muslim, Nasrani, Katolik, Hindu, Budha adalah saudara kita, saudara kemanusiaan kita, yakni orang Maluku. Sebagaimana kata Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib: Jika ia bukan saudaramu dalam iman, maka ia saudaramu dalam kemanusiaan.

Baca Juga  Pokoknya Ada Teddy

Pentingnya Moderasi Kebudayaan

Sampai di sini, saya ingin menyerukan bahwa sudah saatnya kita harus mengubah kesadaran kita mengenai makna teoretis dan praktis gandong yang ekslusif semacam di atas menjadi kesadaran yang inklusif, yang universal dalam kehidupan kita, dalam relasi sebagai sesama orang Maluku. Anda tidak mesti se-pela dan se-gandong dengan saya barulah saya menganggap anda saudara saya. Tapi karena kalian semua adalah manusia, maka kalian adalah saudara saya.

No More Posts Available.

No more pages to load.