Kenyataan menunjukkan ada semacam fenomena mengembalikan dan memperkuat ikatan persekutuan antar negeri (Pela-Gandong) itu untuk suatu saat bersama-sama menghadapi konflik yang dihadapi di antara mereka dalam melawan pihak di luar pela atau gandong mereka. Jadi tanpa sadar, sebagian kita sedang membangun ikatan pela gandong di atas paradigma yang eksklusif. Artinya, sebenarnya kita saling membela dan memertahankan ikatan pela-gandong di antara kita untuk meniadakan yang bukan kita, meniadakan mereka yanng tak se-pela dan se-gandong dengan kita. Dan semua itu dilakukan juga dengan dalih dan slogan katong basudara.
Padahal, persoalan penderitaan sebagian manusia, masyarakat, negeri bahkan negara adalah persoalan kemanusiaan secara umum. Dan ia tak butuh ikatan pela atau gandong agar kita saling menolong. Kita harus membantu karena nilai kemanusiaan menuntut itu. Jadi bukan karena mereka pela atau gandong dengan kita sehingga kita mau menolong, dan acuh karena mereka bukan pela atau gandong dengan kita. Jika kesadaran pela gandong kita orang Maluku masih seperti ini, maka sampai kapanpun kita akan terus berkonflik.
Lalu apa yang harus dilakukan? Kita harus mengubah cara pandang kita terkait pela gandong, dan bahkan konsepsi kita mengenai prinsip katong basudara yang diejawantahkan dalam pranata hidup orang basudara.








