Perubahan itu mesti dilakukan dengan usaha memoderasi kebudayaan kita secara total. Kita harus mendorong agar proses moderasi kebudayaan Maluku semacam di atas dilakukan dengan segera. Untuk itu maka kita harus berani menggugat kesadaran berkebudayaan kita yang masih eksklusif, yang tentu saja itu telah menjadikan kita berpikir secara dangkal, dan kadangkala membuat kita bertindak primitif, dan juga banal.
Moderasi kebudayaan menjadi penting karena masih banyak di antara kita yang memosisikan sejarah kita, tradisi kita, dan negeri kita dalam kondisi yang ekslusif ketimbang yang lain. Bahkan tak jarang yang menganggap negerinya, marganya, atau sukunya, bahkan agamanya lebih superior ketimbang selain mereka. Jika mereka membangun persekutuan pela gandong atau semacamnya, maka pada puncaknya, persekutuan itu saling berhadap-hadapan dengan pihak lain secara pertentangan dan destruktif. Padahal, semua itu hanyalah klaim, hanyalah usaha memertahankan status quo yang tak relevan dengan zaman, dan pada tingkat tertentu berlawanan pula dengan nilai kemanusiaan, persaudaraan universal, dan juga perdamaian yang sejati.
Sudah saatnya paradigma kita tentang pela gandong diubah menjadi luas seluas-luasnya, bahwa semua orang Maluku adalah pela, kita semua adalah gandong. Itu harus diterima dan dijadikan prinsip relasi kita dalam konstruk hidup orang basudara. Jika masih ada yang sangsi dengan dalil ini, maka ia masih membiarkan bibit konflik terpendam dalam hatinya. Semua negeri di Maluku pun adalah satu, tak terbagi, yakni Maluku. Jika masih ada yang sangsi pula dengan prinsip ini, maka ia sesungguhnya sedang merawat konflik horizontal di masa depan.








