Dalam kerangka yang lebih panjang, memori tentang Perang Salib tidak bisa dilepaskan dari cara dunia Islam memandang relasi historisnya dengan Barat. Seruan Paus Urbanus II pada akhir abad ke-11 tidak hanya memobilisasi perang, tetapi juga memberikan legitimasi religius terhadap kekerasan dengan menjanjikan keselamatan spiritual bagi para pelakunya.
Bagi banyak masyarakat Muslim, pengalaman ini membentuk kesadaran historis tentang bagaimana agama dapat dijadikan justifikasi bagi ekspansi dan dominasi. Namun dalam historiografi Barat modern, Perang Salib sering dinarasikan secara lebih jinak, seolah sebagai bagian dari masa lalu yang telah selesai atau sekadar konflik feodal yang tidak lagi relevan. Pendekatan semacam ini berisiko menghapus dimensi traumatik dan ingatan kolektif yang masih hidup dalam kesadaran banyak komunitas.
Relasi antara Perang Salib dan kolonialisme memang tidak bersifat linier, tetapi terdapat kesinambungan dalam logika kekuasaan yang mendasarinya. Kolonialisme Eropa di Asia dan Afrika tidak muncul dari ruang kosong, melainkan melanjutkan pola pembenaran moral atas ekspansi, konstruksi terhadap “yang lain” sebagai inferior, serta legitimasi dominasi atas nama peradaban.










