Laut adalah suara ibu memanggil anak-anak pulang menjelang Magrib.
Laut adalah bau jaring yang dijemur di halaman.
Laut adalah tangan ayah yang kasar karena garam.
Tak satu pun dari semua itu pernah masuk ke dalam laporan.
Suatu sore, seusai seminar di Jakarta, seorang profesor tua menghampirinya.
“Kamu dari Maluku?”
“Iya, Pak.”
“Bagian mana?”
“Galela.”
Lelaki tua itu tersenyum lebar.
“Ah… Galela.”
Nada suaranya membuat Lela terkejut.
“Bapak pernah ke sana?”
Profesor itu menggeleng.
“Belum.”
“Lalu kenapa Bapak tampak begitu mengenalnya?”
“Aku mengenalnya lewat arsip.”
Ia mengeluarkan sebuah buku tua dari tasnya.
Sampulnya kusam.
Kertasnya menguning.
“Sejarah kita terlalu sering ditulis dari istana.”
Ia membuka beberapa halaman.
“Padahal jalur rempah dibangun oleh kampung-kampung seperti tempat asalmu.”
Lela menerima buku itu.
Di dalamnya terdapat peta-peta pelayaran abad ketujuh belas.
Matanya berhenti pada satu nama kecil yang tercetak di tepi Teluk Galela.
Ia memandangi nama itu cukup lama.
Seumur hidup ia menganggap Galela hanyalah kampung tempat ia dilahirkan.
Di dalam buku itu, Galela ternyata merupakan salah satu simpul penting dalam sejarah pelayaran Nusantara.
Ia pulang membawa buku itu.
Malamnya ia membaca hingga dini hari.











