Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -298 views

Malam itu mereka duduk berdua di beranda.

Lampu rumah tetangga berkelip di kejauhan.

Suara ombak terdengar lirih dari teluk.

Ibunya bercerita tentang kampung.

Tentang tetangga yang telah meninggal.

Tentang anak-anak kecil yang kini sudah menjadi ayah.

Tentang musim pala yang beberapa tahun terakhir berubah karena cuaca.

Lela lebih banyak mendengarkan.

Sesekali ia bertanya.

Sesekali tertawa.

Namun lebih sering diam.

Ia baru menyadari bahwa waktu tidak hanya mengubah dirinya.

Waktu juga mengubah kampung.

Dan kampung ternyata tidak pernah benar-benar berhenti menunggu.

Keesokan harinya penelitian dimulai.

Timnya mewawancarai nelayan.

Mencatat perubahan garis pantai.

Mengukur kadar garam.

Memotret hutan mangrove.

Merekam cerita para perempuan yang mengolah hasil laut.

Baca Juga  IMM Kota Ambon Ajak OKP Dukung Kunjungan Menteri ESDM, Soroti Momentum Blok Masela

Semua data terkumpul dengan baik.

Tetapi semakin lama ia bekerja, semakin kuat perasaan bahwa ada sesuatu yang tak akan pernah bisa masuk ke dalam laporan.

Tak ada tabel yang mampu mengukur kerinduan.

Tak ada grafik yang sanggup menunjukkan mengapa suara dayung di waktu Subuh dapat membuat seseorang merasa sedang berada di rumah.

Pada sore hari, setelah pekerjaan selesai, Lela berjalan sendirian menyusuri pantai.

Pohon ketapang itu masih berdiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.