Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -280 views

Batangnya lebih besar.

Akarnya semakin dalam mencengkeram pasir.

Tak jauh darinya, batu karang tempat ia dan Samad dulu duduk masih tetap menghadap laut.

Hanya permukaannya yang kini mulai ditumbuhi lumut.

Lela duduk di sana.

Angin sore mengibaskan rambutnya.

Untuk beberapa saat ia membiarkan dirinya hanya mendengar.

Debur ombak.

Teriakan camar.

Kayu perahu yang beradu pelan.

Suara-suara itu datang satu per satu, seperti sahabat lama yang kembali menyebut namanya.

Lalu terdengar langkah kaki di belakangnya.

Ia menoleh.

Seorang lelaki membawa gulungan jaring di bahunya.

Kulitnya lebih gelap daripada yang diingatnya.

Rambutnya mulai disentuh uban.

Tangan dan lengannya penuh bekas tali.

Tetapi sorot matanya masih sama.

Baca Juga  Israel Menahan Mufti Agung Yerusalem, Dilarang Masuk Masjid Al-Aqsa Selama Sepekan

Tenang.

Dalam.

Seperti laut yang telah lama dikenalnya.

“Samad.”

Lelaki itu tersenyum.

“Akhirnya kau pulang.”

Lela mengangguk pelan.

“Aku terlalu lama.”

Samad memandang teluk yang mulai memantulkan cahaya senja.

“Laut tidak pernah menghitung berapa lama seseorang pergi.”

Mereka duduk berdampingan.

Tak banyak yang diucapkan.

Sesekali hanya saling tersenyum.

Di antara mereka tidak ada lagi kebutuhan untuk menjelaskan tahun-tahun yang hilang.

Sebab ada perjumpaan yang tidak dimulai oleh kata-kata.

Ia dimulai oleh ingatan yang tak pernah benar-benar pergi.

No More Posts Available.

No more pages to load.