Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -319 views

Lela memandang laut.

Beberapa tahun lalu, ia mungkin akan segera menjawab.

Kini ia justru merasa tidak perlu tergesa-gesa.

Selama ini ia selalu mengira hidup adalah memilih antara tinggal atau pergi.

Sekarang ia mengerti.

Yang terpenting bukanlah di mana seseorang berada.

Melainkan apakah ia masih mengenal arah ketika ingin pulang.

“Aku belum tahu.”

Ia tersenyum.

“Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak takut tidak tahu.”

Samad ikut tersenyum.

“Itu berarti kau sudah menemukan arah.”

Lela menoleh ke laut.

Di kejauhan, lampu-lampu perahu nelayan mulai bergerak meninggalkan teluk.

Seperti bintang-bintang kecil yang perlahan berlayar menuju gelap.

Dan ia tahu, apa pun keputusan yang akan diambilnya nanti, ada sesuatu yang tak akan pernah hilang lagi dari dirinya.

Baca Juga  Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Maluku Ditunda, Anos Yermias: Tunggu Jadwal Resmi dari DPP

Ia telah menemukan kembali rumah yang selama ini dicarinya di tempat-tempat yang jauh.

Padahal rumah itu, sejak awal, selalu menunggu dengan sabar di tepi laut yang mengenal namanya.

Beberapa hari kemudian, penelitian itu selesai.

Pagi masih basah oleh embun ketika mobil yang akan membawa rombongan menuju Sofifi berhenti di depan rumah ibunya. Rekan-rekan Lela sibuk memasukkan koper dan kotak-kotak peralatan ke bagasi. Seseorang mengecek daftar perlengkapan. Seseorang lagi memanggil nama-nama anggota tim.

No More Posts Available.

No more pages to load.