Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -293 views

Lela menghampiri.

“Kami berangkat sekarang.”

Samad mengangguk.

“Kapan kembali?”

Lela memandang laut.

“Aku tidak tahu.”

Ia tersenyum.

“Tapi sekarang aku tahu ke mana harus kembali.”

Samad ikut tersenyum.

“Itu sudah cukup.”

Tak ada pelukan.

Tak ada janji.

Tak ada kata-kata yang berusaha mengalahkan sunyi.

Mereka sama-sama mengerti bahwa beberapa hubungan tidak membutuhkan kepastian untuk tetap hidup.

Seperti laut yang tidak pernah meminta perahu tinggal lebih lama.

Ia hanya menyediakan jalan bagi siapa pun yang hendak pulang.

Mobil mulai bergerak meninggalkan kampung.

Dari balik jendela, Lela melihat garis pantai semakin menjauh.

Rumah-rumah mengecil.

Perahu-perahu berubah menjadi titik-titik hitam di permukaan laut.

Baca Juga  Waspada! 5 Kalimat Ini Sering Diucapkan Orang yang Pura-Pura Baik

Namun ada satu hal yang kali ini tidak ikut mengecil.

Perasaannya.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Galela bertahun-tahun lalu, ia tidak merasa sedang pergi.

Ia hanya sedang melanjutkan perjalanan.

Di pangkuannya terletak buku catatan lapangan yang hampir penuh.

Halaman-halaman itu berisi angka, peta, hasil wawancara, dan berbagai temuan penelitian.

Namun sebelum mobil mencapai tikungan terakhir, Lela membuka halaman kosong di bagian belakang.

Ia menulis satu kalimat.

“Laut bukan sekadar ruang hidup masyarakat pesisir. Laut adalah ingatan yang membuat manusia tahu dari mana ia berasal.”

No More Posts Available.

No more pages to load.