Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -253 views

Namun bertahun-tahun kemudian, Samad menyadari bahwa sejak kecil Lela memang mendengar dunia dengan cara yang berbeda.

Ibunda Lela mengajar di sekolah dasar.

Ayahnya bekerja di pelabuhan Galela.

Mereka ingin anak semata wayangnya sekolah setinggi mungkin.

“Perempuan harus bisa membaca dunia,” kata ibunya.

“Kalau tidak, dunia akan membacanya sesuka hati.”

Sejak SMP, kamar Lela mulai dipenuhi buku.

Sejarah.

Atlas.

Novel.

Peta-peta pelayaran tua.

Di bawah pohon ketapang dekat pantai, ia sering membacakan isi buku-buku itu kepada Samad.

Tentang kapal-kapal Arab yang mencari cengkih.

Tentang armada Portugis yang pertama kali melihat Kepulauan Rempah.

Tentang saudagar Gujarat dan Koromandel yang berbulan-bulan mengarungi samudra demi pala dan cengkih dari Maluku.

Baca Juga  Belanda Kembali Aktifkan National Heat Plan, Suhu Diprediksi Tembus 32 Derajat Celsius

Suatu hari Lela memungut sebutir pala yang jatuh di dekat kaki mereka.

“Lucu, ya.”

“Apa?”

“Orang-orang dari seberang dunia rela mati demi rempah yang tumbuh di halaman rumah kita.”

Samad menerima buah pala itu dari tangannya.

“Mungkin mereka juga sedang mencari jalan pulang.”

Lela memandangnya cukup lama.

“Kamu kalau bicara seperti Kakek Mahmud.”

Samad tertawa kecil.

“Barangkali karena aku terlalu sering mendengar ceritanya.”

Mereka kembali diam.

Angin membawa harum bunga pala yang sedang mekar.

No More Posts Available.

No more pages to load.