Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -286 views

Samad tersenyum.

Ia dapat membayangkan Lela berdiri sendirian di jendela kamar kos, mencari laut yang tak mungkin ada.

Begitulah tahun-tahun pertama berlalu.

Lela pulang setiap libur panjang.

Mereka kembali berjalan di sepanjang pantai, tetapi percakapan mereka mulai berubah.

Lela membawa cerita tentang dosen, buku, diskusi, dan mimpi-mimpi yang semakin jauh menjangkau dunia.

Samad membawa kabar tentang musim ikan, pohon pala yang kembali berbunga, juga para nelayan tua yang satu demi satu mulai berhenti melaut.

Mereka masih tertawa.

Masih saling memahami.

Namun di sela-sela percakapan itu, ada jarak yang tumbuh pelan, seperti air pasang yang naik sedikit demi sedikit tanpa disadari.

Baca Juga  SPPG di Ternate Ikut Diperiksa Jaksa, Diduga Terkait Penyidikan Korupsi BGN

Setelah wisuda, Lela diterima bekerja di Jakarta.

Seluruh kampung kembali bersukacita.

“Anak Galela kerja di ibu kota,” kata orang-orang dengan bangga.

Ibunya memasak lebih banyak daripada biasanya.

Tetangga berdatangan mengucapkan selamat.

Samad ikut membantu memindahkan kursi-kursi di halaman rumah.

Ia mengangkat meja, menyiapkan gelas, melayani tamu, lalu pulang ketika malam mulai larut.

Tak seorang pun melihatnya berdiri beberapa saat di tepi pantai sebelum kembali ke rumah.

Sejak hari itu surat-surat berhenti datang.

No More Posts Available.

No more pages to load.