Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -468 views

Langit cerah.

Angin bersahabat.

Tak ada tanda-tanda buruk.

Menjelang siang, beberapa nelayan menemukan perahunya terapung tenang tak jauh dari teluk.

Ayah Samad masih duduk di buritan.

Satu tangannya menggenggam kemudi.

Matanya telah terpejam.

Seolah ia hanya sedang beristirahat setelah perjalanan yang panjang.

Dokter puskesmas mengatakan jantungnya berhenti ketika sedang melaut.

Tak ada badai.

Tak ada kecelakaan.

Hanya ajal yang datang di tempat yang paling dicintainya.

Saat jenazah dibawa pulang, seorang tetua kampung berkata lirih,

“Allah memilih memanggilnya di rumah keduanya.”

Tak seorang pun bertanya apa yang dimaksud rumah pertama dan rumah kedua.

Semua orang di kampung telah mengerti.

Rumah pertama adalah daratan.

Baca Juga  Sejarah Bandara Emalamo, Gerbang Udara Kepulauan Sula yang Pernah Lumpuh Akibat Sengketa Lahan

Rumah kedua adalah laut.

Sejak hari itu, Samad mengambil alih perahu keluarga.

Ia melaut sebelum fajar.

Pulang ketika matahari condong ke barat.

Tangannya mulai dipenuhi bekas tali.

Kulitnya menghitam oleh matahari.

Tetapi ada satu kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan.

Setiap malam Jumat, anak-anak kampung berkumpul di beranda rumahnya.

Mereka datang bukan untuk belajar menangkap ikan.

Mereka datang untuk mendengar cerita.

Samad mengulang kisah-kisah yang dahulu didengarnya dari Kakek Mahmud.

No More Posts Available.

No more pages to load.