Cerpen Karya: Dino Umahuk
Di Galela, orang-orang tua percaya laut mempunyai ingatan yang lebih panjang daripada manusia.
Ia mengingat setiap perahu yang pernah meninggalkan teluk, setiap layar yang mengembang diterpa angin utara, setiap doa yang dilepas dari bibir seorang ibu ketika anak lelakinya berangkat melaut. Bahkan, laut konon menyimpan nama setiap anak kampung yang pergi merantau, meski anak itu sendiri telah lupa dari mana langkahnya bermula.
Karena itu, tak seorang pun benar-benar dianggap pergi.
“Laut hanya sedang meminjamnya,” kata para tetua.
Kalimat itu telah didengar Samad sejak ia belum cukup tinggi untuk membantu ayahnya menarik jaring ke pantai.
Ia lahir di Soasio, sebuah kampung tua di tepi Teluk Galela. Setiap pagi, permukaan teluk memantulkan Gunung Dokuno seperti cermin yang dipasang di hadapan langit. Menjelang sore, angin dari Pasifik turun membawa ombak. Anak-anak kampung belajar mengenali arah angin jauh sebelum mereka pandai membaca buku sekolah.
Ayah Samad seorang nelayan.
Kakeknya juga.
Namun di rumah panggung yang menghadap laut itu, mereka tidak pernah menyebut diri sekadar nelayan.
“Leluhur kita pelaut,” kata Kakek Mahmud suatu malam.
Anak-anak kampung berkumpul mengelilinginya. Pelita minyak bergoyang pelan diterpa angin. Bau kopra yang baru dijemur bercampur dengan aroma garam yang datang dari teluk.











