Perempuan yang Mudah Jatuh Cinta

oleh -8 Dilihat

“Untuk apa?”

“Berapa bangau yang sudah terkumpul?”

“Empat puluh sembilan.”

“Masih banyak kurangnya. Masih sembilan ratus lima puluh satu lagi. Buatlah sebanyak itu.”

“Tak bisa kah kamu mengatakan alasannya?”

Koento melengos dan melambaikan tangannya kepada perempuan yang masih terpaku dengan pikiran tentang bangau-bangau itu.

Sita mulai belajar membuat origami bangau seperti saran Koento. Berulang kali ia mengalami kegagalan karena tak mahir dalam urusan prakarya. Perempuan berambut belah tengah itu bersikeras untuk bisa membuat origami bangau. Ia tak peduli berapa ratus lembar kertas yang telah dipaksa untuk memenuhi hasratnya. Satu origami bangau dari dua ratus tiga belas kali percobaan pun terbentuk sempurna.

Sita pun membait puisi dalam kertas yang dibentuk origami bangau tanpa Koento harus membacanya secara langsung. Sita dan Koento sudah jarang bersua. Bukan ghosting, semacam menjauh secara perlahan karena situasi yang tak mempertemukan mereka saja. Keduanya masih saling berkomunikasi sehingga rasa cinta Sita tak bisa sirna dengan mudahnya. Ia hanya mengirim bait-bait puisi yang ditulisnya melalui pesan. Tak ada kata-kata apapun dari Koento sebagai balasan. Hanya emoticon love, selalu saja seperti itu.

No More Posts Available.

No more pages to load.