“Empat puluh sembilan,” gumamnya saat menghitung jumlah origami burung bangau itu.
Sita meletakkan toples bening itu di meja dekat rak berisi buku-buku milik Koento yang belum sempat dikembalikan. Memang sengaja belum dikembalikan karena sebagian masih digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah dan sebagian lagi tak ingin dikembalikan karena di sana ada sketsa-sketsa Koento dengan beragam mimik dan perilaku. Sita menggambarnya saat sedang suntuk dan teringat dengan Koento. Salah satu sketsa wajah buatannya dijadikan foto profil media sosial Koento. Sita merasa sangat tersanjung dan memberanikan diri bertanya dengan Koento.
“Kekasihmu tak menanyakan siapa yang menggambar foto profilmu?”
“Dia tak peduli.”
“Hmm…Kalau aku jadi kekasihmu pasti sudah menanyakannya.”
“Syukurlah kamu bukan kekasihku.”
“Apa kamu masih tidak tertarik padaku setelah sekian lama bersamaku?”
“Tidak. Aku masih mencintai kekasihku.”
“Lalu perhatian yang kamu berikan padaku itu apa?”
“Perhatian sebagai teman, tak lebih.”
“Lalu, mengapa kamu selalu membuat bangau dan menyuruhku untuk menyimpannya?”
“Apa kamu sudah bisa membuat bangau itu?”
“Kamu tidak pernah menyuruhku untuk membuat bangau itu.”
“Sebaiknya kamu mulai belajar membuatnya.”









