Sita tak pernah mempermasalahkannya. Ia tetap saja mengirimi Koento bait-bait puisi itu hingga tak terasa berjumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan.
“Sita, biarkan aku membuat sebait puisi yang ke seribu.”
“Bagaimana kamu tahu tinggal satu lagi? Apa kamu menghitungnya?”
“Iya, aku menghitungnya dan aku rasa inilah waktu untuk mengakhirinya. Aku tak ingin kamu terlalu lama berharap padaku. Mari kita bertemu?”
Sita membaca berulang kali pesan itu. Hatinya terasa sakit sekali. Pesan itu seperti sembilu yang menggores hatinya hingga terluka.
Sita menganggap pertemuan ini adalah sebuah perpisahan. Ia pun menginginkan untuk bertemu Koento di pantai. Keduanya pergi secara terpisah dan bertemu tepat setengah jam sebelum senja perlahan mulai menghilang.
Hening menyelimuti hati Sita dan Koento yang duduk bersebelahan di atas pasir. Jaraknya tak terlalu jauh, hanya tiga puluh sentimeter saja. Mereka saling pandang, lalu Koento memberikan secarik kertas bertuliskan sebait sajak.
Ada batasan di mana aku tak bisa
Mengungkapkan perasaanku,
Mencintaimu bukan kesalahan,
Tapi kenakalan manis dari sebuah rasa.
Sita terisak saat membaca baris ketiga. Ia memandang Koento dan memeluknya.
“Maafkan aku, Sita. Kamu harus menunggu selama itu. Kekasihku baru saja mengembuskan napas terakhirnya seminggu yang lalu karena kanker tulang. Aku tak tega meninggalkannya meski ia tahu aku mencintaimu. Aku tak ingin kamu sakit hati dengan terus berharap padaku. Tapi ternyata kamu begitu setia menungguku. Rasanya tak pantas bila aku membiarkanmu menungguku lebih lama. Karenanya aku memintamu membuat bangau-bangau itu supaya kamu bisa membaca maksudku. Sepertinya kamu telah membuat harapan dan terkabul.”









