Setelah berabad-abad, hingga hari ini ungkap Reza, Maluku adalah tiga provinsi termiskin di Indonesia. “Harapannya dengan adanya pemerintahan yang baru ke depannya ini, kita Indonesia sedang ada tema untuk menuju Indonesia Emas, komponen dari generasi muda Maluku khususnya yang ada di kemahasiswaan yang ada di Jakarta maupun di daerah, merasa perlu adanya sebuah gerakan kebersamaan dari masyarakat Maluku di dalam membangun Maluku,” urainya.
Menanggapi persoalan ketertinggalan yang terjadi di Maluku, diperlukan konsensus kolektif dari seluruh elemen masyarakat Maluku. Elemen-elemen tersebut mencakup elit, politisi, praktisi, akademisi, pelaku usaha, musisi, artis, LSM, organisasi masyarakat, mahasiswa, serta masyarakat akar rumput. Selain itu, partisipasi aktif dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga sangat penting untuk merespons dan mengawal cita-cita mulia untuk mendorong percepatan pembangunan laut Maluku.
“Kami sebagai generasi muda dan mahasiswa Maluku mengajak seluruh komponen masyarakat untuk berhimpun bersama menjadi satu kesatuan Masyarakat Maluku Indonesia dalam acara ‘Maluku Tabaos’ yang juga bertepatan dengan Hari Laut Sedunia sebagai titik refleksi mendalam terhadap keadaan laut di Maluku. Melalui acara ini, kami berupaya membangkitkan kembali semangat dan komitmen terhadap pembangunan Maluku dan terintegrasi secara nasional berdasarkan karakteristik bangsa bahari,” ujar Christina Rumahlatu selaku Ketua Steering Committee dan Rehan Wattimena selaku Ketua Organizing Committee.









