Polisi Myanmar Gunakan Granat Kejut untuk Bubarkan Demonstran

oleh -24 views
Link Banner

Porostimur.com | Naypyidaw: Polisi Myanmar bergerak cepat pada Ahad (28/2/2021) untuk membubarkan protes terhadap junta militer.

Polisi bahkan melemparkan stun grenade alias granat kejut dan menembak ke udara pada Ahad sebagaimana dilansir Thomson Reuters Foundation News.

Sejumlah saksi mengatakan kepada Thomson Reuters Foundation News bahwa beberapa orang terluka.

Beberapa orang berlumuran darah terlihat dibawa menjauh dari aksi protes di kota terbesar Myanmar, Yangon.

Link Banner

Melalui gambar yang beredar di media sosial, tidak jelas apakah para korban terluka oleh peluru karet atau tembakan.

Kelompok media Myanmar Now bahkan mengeklaim, beberapa orang “ditembak mati” tetapi tidak merinci lebih lanjut.

Tindakan polisi itu dilakukan setelah televisi pemerintah mengumumkan bahwa Duta Besar Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun telah dipecat.

Junta militer mengatakan, Kyaw Moe Tun mengkhianati negara dan berbicara untuk organisasi tidak resmi yang tidak mewakili Myanmar.

Baca Juga  Lockdown Tak Cukup, WHO Minta Tiru 3 Negara Ini untuk Hentikan Corona

Kyaw Moe Tun juga dianggap telah menyalahgunakan kekuasaan dan tanggung jawab seorang duta besar.

Myanmar dilanda kekacauan ketika tentara merebut kekuasaan dan menahan Aung San Suu Kyi beserta sejumlah tokoh National League for Democracy (NLD) pada 1 Februari.

Setelah itu, ratusan ribu pengunjuk rasa ke jalan-jalan dan militer Myanmar menuai kecaman dari negara-negara Barat. Beberapa negara bahkan menjatuhkan sanksi terbatas.

Pada Minggu, polisi telah siap dan berjaga-jaga menghadapi para demonstran di Yangon. Ketika para demonstran mulai berkumpul, polisi dengan cepat membubarkan massa.

“Polisi turun dari mobil mereka dan mulai melemparkan granat kejut tanpa peringatan,” kata Hayman May Hninsi yang bersama sekelompok rekan guru di Yangon.

Melihat granat kejut dileparkan, para demonstran membubarkan diri dan melarikan diri ke gedung terdekat.

Baca Juga  Anggota Dewan Tepergok Chat dengan PŚK saat Ikut Rapat

“Beberapa guru terluka saat berlari. Kami sedang menilai situasinya dan apakah akan keluar lagi atau tidak,” imbuh Hayman.

Para dokter dan mahasiswa dengan jas lab putih melarikan diri ketika polisi melemparkan granat kejut di luar sekolah kedokteran di Yangon.

Di Mandalay, polisi menembakkan senjata ke udara, menjebak staf medis yang menggelar aksi protes di sebuah rumah sakit kota, kata seorang dokter di sana melalui telepon.

Polisi dan juru bicara junta militer Myanmar yang berkuasa tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Sehari sebelumnya, pada Sabtu (27/2/20210) polisi juga membubarkan demonstrasi dengan kekerasan di seluruh penjuru Myanmar.

Pemimpin junta militer Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan, pihak berwenang telah menggunakan kekuatan minimal.

Baca Juga  Tingkatkan kemampuan tempur, Yonif 733 Raider gelar Latihan ancab

Namun demikian, setidaknya tiga pengunjuk rasa telah tewas selama aksi gelombang protes. Tentara mengatakan seorang polisi tewas dalam kerusuhan itu.

Saluran televisi MRTV yang dikelola pemerintah mengatakan, lebih dari 470 orang telah ditangkap.

MRTV menambahkan, polisi telah memberikan peringatan sebelum menggunakan granat kejut untuk membubarkan orang.

Salah satu aktivis bernama Esther Ze Naw mengatakan, orang-orang berjuang untuk mengatasi ketakutan yang telah lama mereka alami.

“Ketakutan ini hanya akan tumbuh jika kita terus menjalaninya dan orang-orang yang menciptakan rasa takut itu tahu itu. Jelas mereka mencoba menanamkan rasa takut pada kita dengan membuat kita lari dan bersembunyi,” kata Esther.

“Kami tidak bisa menerima itu,” tegas Esther.

(red/kompas.com)