Di Indonesia, fenomena “politainment” seolah menjadi template politisi hari ini.
Praktik politik politainment sebelumnya popular dan diterapkan di Amerika Serikat. Strategi ini dikenalkan oleh kandidat presiden Richard M Nixon pada event-event komedi terlaris Laugh-In tahun 1968 dan Bill Clinton yang bermain saksofon di Arsenio Hall Show. Ia mampu memesona khalayak dan para pendukungnya (Nieland, 2008).
Di berbagai belahan dunia, fenomena politainment mulai merambah hajatan kepemimpinan di Eropa hingga Asia, termasuk Indonesia.
Fenomena hiburan politik ini memang paling mudah dan murah dilakukan untuk mendekatkan jarak antara sang calon dan pemilih. Politainment menjadi “edukasi” yang mereduksi nilai-nilai politik yang selama ini dikenal rumit dan amat kompleks.
Dampak Politaiment dan Pop Politik
Riset mengenai fenomena politainment di Spanyol oleh Rocío Zamora-Medina (2023) menunjukkan gimik politik dominan menggunakan visual story telling, terutama video tarian.
Fenomena di atas mewakili estetika hyper-postmodern yang disebut sebagai pop-politics (pop-politik) atau politainment yang berlangsung di medsos.
Fenomena politainment maupun pop politics juga sempat disoroti pada pemilihan Presiden Filipina Bongbong Marcos Jr. Kampanye dan komunikasi yang dilakukan cenderung menghibur dan minim melakukan dialog konfrontatif terhadap lawan politinya alias cari aman.










