“Politainment” dan Wajah Pilkada 2024

oleh -558 views

Padahal, pemikiran George Loewenstein (1994) menekankan bahwa semakin seseorang (rakyat) tidak mengetahui informasi (information gaps) terhadap sesuatu hal akan mengungkit rasa ingin tahu dan memotivasinya untuk menggali informasi sejelas mungkin dari berbagai sumber.

Termasuk informasi dan program politik dalam kampanye para kandidat. Jujur, publik hanya mengetahui calon dari spanduk dan polusi virtual flyer sang calon pemimpin di ruang maya.

Fenomena gaps information calon pemilih dan kandidat ini harusnya menjadi momentum dan strategi untuk mensosialisasikan programnya. Entah dengan format tatap muka maupun online.

Ruang-ruang diskusi dan pengayaan yang mudah dicerna publik idealnya diduplikasi dari wilayah ke wilayah lainnya. Panggung dan mimbar-mibar dialog harus dibuka lebar secara inklusif agar akses dialog berjalan, bukan monolog.

Jika ruang-ruang literasi dikunci oleh para kandidat, patut dipertanyakan. Jangan-jangan mereka tidak memiliki kapasitas dan kemampuan untuk mengartikulasi gagasan politik kepada masyarakat.

Baca Juga  Watubun Ajak Generasi Muda Jadikan Hari Pattimura Momentum Perkuat Persatuan

Kesenjangan informasi menganga begitu lebar, tetapi mulut masyarakat dibungkam saat kampanye dengan “bingkisan politik”. Pada akhirnya, nalar kritis mudah diredam. Inilah dampak buruk dari gaya politainment.

No More Posts Available.

No more pages to load.