‘’Kalau bicara tentang dua mata rumah ini, saya sebagai mata rumah perintah (Soa Perintah), dilantik secara adat di Baileo, dengan sebutan Upulatu Negeri Hutumuri, Ulisiwa Siwa Samasuru, Amalatu. Dikatakan pula, pada Baileo itu ada Tiang Raja, tiap soa punya tiang, dan tiang Raja hanya satu, dan saat dilantik saya harus memeluk tiang Raja itu, kalau Mokuhutung, karena sudah ada Perneg, dia dilantik tapi tidak mau dilantik dengan Upulatu tapi Upuperintah,’’ beber dia.
‘’Ini yang menjadi alasan bagi saya mau revisi Perneg, karena untuk negeri adat, mata rumah parentah hanya satu, kalau memang ada keberatan, kita jalan saja, tetapi dengan catatan, dilantik dengan Upulatu bukan Upuperintah, karena dilantik secara adat, jadi harus lakukan juga secara adat,’ sebut Waas.
Budaya Tutup Baileo dan Pergantian Ahuneng

Masih menurut Raja Negeri Hutumuri, ada salah satu budaya di Negeri Hutumuri yang cukup unik yaitu budaya tutup Atap Baileo dan Pergantian Tiang Ahuneng sebagai poros dari Baileo.
Tiang (pilar dari kayu) Ahuneng ini Panjangnya 21 Meter, yang bertugas mencari dan mengambilnya adalah mereka dari Soa Alifuru, tiangnya ini tidak boleh putus, harus pas dengan ukuran yang sudah ditentukan, serat dan isinya harus yang terbaik, Sekarang ini saja sudah bertahan sekitar Tujuh Tahun, Soa alifuru yang selalu mengecek, kalau sudah waktunya mengganti Ahuneng itu, maka dimulai dengan melakukan pertemuan adat dengan menghadirkan semua Soa, itu dilakukan jika sudah dipastikan pengganti tiangnya sudah ada, termasuk atap Baileo yang disediakan oleh setiap Soa.









