Penyakit menular dapat menyebar di antara kerumunan yang berkumpul, banyak dari mereka yang menabung sepanjang hidup mereka untuk ibadah haji dan bisa jadi sudah tua dengan kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, kata artikel tersebut.
Namun, jumlah korban tewas tahun ini menunjukkan ada sesuatu yang menyebabkan angka kematian meningkat. Beberapa negara sudah mengatakan beberapa jemaah mereka meninggal karena panas yang melanda situs-situs suci di Makkah.
Khalid Bashir Bazaz, seorang jemaah asal India, berbicara di dekat Masjidil Haram pada hari Rabu (19/6/2024), mengatakan bahwa dia melihat banyak orang pingsan ke tanah tak sadarkan diri selama Haji tahun ini.
Diketahui, menurut Pusat Meteorologi Nasional Saudi suhu pada hari Selasa (18/6/2024) mencapai 47 derajat Celsius di Makkah. Beberapa orang pingsan saat mencoba melakukan lempar jamrah simbolis.
Diyakini, perubahan iklim bisa membuat risiko ibadah haji lebih besar. Sebuah studi tahun 2019 oleh para ahli di Institut Teknologi Massachusetts menemukan bahwa bahkan jika dunia belum berhasil mengurangi dampak terburuk dari perubahan iklim, ibadah haji akan diadakan dalam suhu yang melebihi ambang batas bahaya ekstrem dari tahun 2047 hingga 2052, dan dari 2079 hingga 2086. (red/beritasatu)










