Rumah dan Luka

oleh -36 views

Cahaya matahari mengintip dari balik gorden, menerpa kulit wajah yang dibasahi air mata. Rupanya hari sudah siang dan aku masih duduk termenung di ruang ratapan, menunggu kapan tiba waktu aku dapat melangkah pergi dari rumah ini. Detik demi detik yang berjalan serasa amat lambat, ingin saja aku memiliki mesin waktu dan segera datang pada hari dimana aku terbebas dari segala sesak.

Aku hanya pecundang yang enggan menghadapi masalah. Tapi aku ingin tetap waras, jika terus menerus bertahan, mungkin tinggal menunggu kapan waktu yang tepat untuk melepas paksa nyawa dari tubuhku. Dan aku tidak ingin itu terjadi, setidaknya dalam waktu dekat.

Baca Juga  Dorong Rumah Dhuafa dan Bantuan Ambulans, Pemkot Ambon Gandeng BAZNAS RI

Seorang perempuan paruh baya membuka pintu kamar, aku menoleh dengan enggan.

Ah, pasti ia akan mengadu nasibnya. Lagi. Bukan aku tidak ingin mendengar keluh kesahnya itu, tapi aku sudah terlalu muak. Untuk apa tetap bersikukuh memegang ikatan yang sudah sejak lama rapuh, lebih tepatnya tak pernah utuh. Ingin aku memberi saran yang paling ampuh, lekaslah lepas agar kembali sembuh. Namun suara itu hanya bertahan di tenggorokanku.

“Aku sudah tidak sanggup lagi. Mengapa harus aku yang selalu mengorbankan diri? Apakah ia tak pernah berpikir untuk sesekali ikut mengorbankan diri? Sejak awal aku terjerumus dalam ikatan ini, sudah berapa banyak lara yang aku tanggung? Jika saja perpisahan bukanlah aib, mungkin sudah sejak dulu aku melarikan diri. Tapi malang bagiku, takdir yang mengikat kami enggan memutuskan diri.”

No More Posts Available.

No more pages to load.