Pada Abad ke 13, bala tentara Mongol atau Tartar dengan kaisarnya Hulagu Khan melakukan ekspansi besar-besaran. Mereka bergerak menguasai negeri-negeri lain termasuk kekhalifahan Abbasiyah kala itu.
Tentara Mongol selain dikenal bengis dan sadis, juga digambarkan tidak terkalahkan dan tidak akan pernah kalah. Bahkan ada semacam pemeo saat itu: “Jika anda mendengar tentara Mongol kalah, maka pasti beritanya yang salah.”
Pasukan Elit Mongol didominasi oleh suku yang hari ini dikenal dengan nama “Kazakh”. Memiliki tubuh rata-rata tinggi besar dibandingkan ukuran manusia normal. Dan mereka sejak kecil telah ditempa dengan alam dan pendidikan yang keras ala militer.

Di tangan sang pemimpin legendaris Saifuddin Al-Qutuz, runtuhlah mitos tersebut. Beliau memimpin langsung pasukan dalam sebuah peperangan yang sangat menentukan yang dikenal dengan perang Ain Jalut.
Beliau dan pasukan muslimin untuk pertama kali mempecundangi tentara Mongol dalam bentuk kekalahan telak. Sebanyak 20.000 tentara Mongol terbunuh.
Lembah Ain Jalut, Jumat 25 Ramadhan 658 Hijriyah menjadi saksi sejarah kemenangan pasukan muslimin saat menghadapi serbuan pasukan Mongol. Sejak itu mental kaum muslimin berangsur bangkit kembali, hingga berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan Mongol.









