Tetapi jika ada satu warisan yang membuat JK layak dicatat lebih dari sekadar politisi biasa, itu adalah perannya dalam resolusi konflik. Dalam berbagai momentum krusial mulai dari Konflik Aceh yang berujung pada Perjanjian Helsinki 2005, hingga konflik komunal di Ambon dan Poso JK tampil sebagai negosiator yang bekerja di balik layar, mengandalkan kepercayaan personal dan pendekatan informal. Di tangan figur seperti dia, diplomasi tidak selalu berlangsung di meja resmi, tetapi juga di ruang-ruang sunyi yang jauh dari sorotan kamera.
Saya mengenalnya tidak hanya dari arsip berita, tetapi juga dari cerita langsung seorang sahabatnya, almarhum Ahmad Syafii Maarif. Dalam beberapa kesempatan, termasuk sebuah forum yang digelar Maarif Institute, saya menyaksikan bagaimana relasi keduanya terjalin: hangat, terbuka, namun juga penuh perdebatan. Bagi Buya Syafii, JK adalah sosok kompleks bisa sangat pragmatis, tapi juga memiliki komitmen kebangsaan yang tidak bisa diremehkan.
Karena itu, ketika hari ini JK kembali terseret ke pusaran kontroversi dituduh berada di balik pembiayaan pihak-pihak yang mempersoalkan ijazah Joko Widodo kita tidak sedang menyaksikan polemik biasa. Ini adalah pertarungan narasi, bahkan pertarungan reputasi.










