SIOH PENDAKI
(Endhy Frediansyah)
Cuma kau yang sanggup dengar lagu gunung
Cuma kau yang sanggup dengar puisi rimba
Akhirnya kau menuju satu tikungan
Pada jalan paling diam
Lalu bisu
Cuma kau yang sanggup dengar deru bayu
Cuma kau yang sanggup dengar bisik lumut
Akhirnya kau daki jalur paling maut
Melebihi satu bubungan
Paling jahanam
Cuma kau yang sanggup tancap satu tiang
Cuma kau yang sanggup kibar bendera
Akhirnya burung tahun bicara
Pohon merbabu bercerita
Gunung rindu
Cuma kau yang sanggup pegang sumpah
Cuma kau yang sanggup pegang rahasia
Bahwa setiap lelaki adalah pendaki
Dia pasti tiba di satu gunung
Paling biru
Utan Kayu, 20 Februari 2019
=======
SAUMLAKI
Saumlaki adalah kota yang disiram banyak cinta. Anak-anak yang putus pusa di sini, rela putus nafas demi cinta yang lebih murni dari madu dan anggur.
Angin di bubungan hotel apung, ada wangi ikan dan kumbili menetes seperti hujan di cucuran.
Aku cium bau busuk. Aku kenal, itu bukan kentut busuk melainkan bau cinta palsu.
Rasanya manis laksana gula pasir kencing manis, dicampur micin dan jamur telinga tikus, dimasak pakai korek api gas.
Ah, Saumlaki, jadilah lelaki besi berani. Seperti bhayangkari Mathilda Batlayeri.
Saumlaki, izinkan aku jatuh, cium tanah, makan tanah.
“Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku”









