Cerpen Karya: Rista Dwi Anggraini
Aku membenarkan posisi terompah abah sebelum beliau selesai mengenakan jubah putih kesayangannya. Sejak setahun terakhir, jubah itu menjadi andalannya untuk menghadiri undangan khusus. Dan malam ini, abah akan memenuhi sebuah undangan yang sudah lama dinantinya. Beliau berusaha tampil menarik dengan berkali-kali mematut diri di depan cermin panjang yang tak jauh dari kamar mandi. Aku menahan senyum melihat abah yang bertingkah seperti anak muda, mondar-mandir hanya karena ingin mengoreksi penampilannya.
“Terompah abah sudah kau siapkan, Meyda?” Aku mengangguk.
“Sudah kau hubungi Ahsan?” Aku kembali mengangguk.
“Oh ya, tolong tasbih abah di depan rak buku yang menghadap ke selatan.” Aku berlalu dari hadapan abah untuk memenuhi perintahnya. Kuraih tasbih dengan butiran permata yaqut yang lembut dan mungil itu, kemudian kumasukkan ke dalam saku jubah abaya ungu yang kukenakan malam ini.
“Meyda, Ahsan sudah datang.” Panggil abah lirih namun terdengar tegas. Aku segera menghampiri abah yang sudah siap menungguku di kursi bagian depan bersama Ahsan, sopir pribadi abah. Yah! Aku bertugas menemani abah kemanapun beliau pergi semenjak hari wafatnya ummi beberapa tahun yang lalu. Karena, akulah satu-satunya putri semata wayang dengan beban berat yang akan aku tanggung nanti. Bismillah dengan ikhlas, in sya Allah aku bisa menjadikan pesantren yang menjadi tanggung jawabku ini lebih baik, sesuai permintaan abah.
“Abah tidak ingin santri yang banyak. Abah cuma ingin santri yang nurut.” Pesan abah ketika sebulan yang lalu terbaring lemah di rumah sakit.




