Namun, seorang gadis dengan wajah sembab menahan tangis, mulai mendekati kaca. Gadis itu pun termenung disudut kaca searah denganku. Ia menangis sambil menyalahkan diri. Jari-jarinya mengetuk kaca dan membuat tubuhku jadi gemetar. “Andai saja, rintik sepertimu turun lagi.. aku pasti bisa menangis dengan puas.” ucapnya. Ia mengecup bibirnya pada kaca, seolah itu dilakukan padaku langsung. Pada detik itu, tubuhku jatuh dan melebur. Tapi, dalam diriku yang awalnya hampa mulai terisi sebuah harapan. Ya, jatuh lagi demi gadis itu.
Dari harapan tersebut, aku merasa bisa jatuh ribuan kali, kapanpun hingga tuhan menghentikanku. Tak apa meski gadis itu tak sadar rintik itu aku, mungkin suatu saat ia akan sadar. Dan disaat itu tiba, aku akan terus jatuh untuknya. Karena hanya dengan melihat dia lega dan tersenyum kembali, itu sudah cukup bagiku. Kenapa? Karena dia manusia pertama yang menghargai hidup dan keberadaanku di dunia ini.
“Ibu, kau tahu? Aku sungguh bahagia bisa jatuh di kaca itu dan bertemu gadis baik hati yang menaruh sebuah harapan padaku..” ucapku pada ibu yang akhirnya mengembangkan senyumnya.
– Fin –









