Secangkir Kopi di Gelas Tua

oleh -45 views
Link Banner

Cerpen Karya: Elvira Hamapati

Menjelang senja aku dan adik kecilku berdua menatap langit sambil termenung. Kami teringat akan banyak kenangan yang terjadi di tahun ini.

Adiiku tiba-tiba menangis sesegukan, “Tuhan jahat pada kita ya kak”

Aku tersenyum tak sadar air mataku pun menetes. Kucoba tahan sesak di dada yang rasanya seperti luka perih. Kenangan ini akan tersimpan di relung hati kami terdalam, kami yakin Ibu sudah bahagia di surga saat ini.

Link Banner

Aku bangkit dan menuju dapur, kucari cangkir tua penginggalan Ibu yang kuingat ia selalu sajikan untuk Ayah. Aku ambil bubuk kopi Wanoo yang berasal dari Sumba kuseduh untuk kami berdua.

Baca Juga  Tim Satgus Covid-19 Desa Koititi Tidak Bekerja, Ini Penjelasan BPD

Aku kembali duduk di samping adikku yang tak lama lagi akan menyandang gelar sarjananya. “Adikku sayang minumlah kopi di gelas tua ini engkau akan merasakan kehangatan Ibu yang selalu ia berikan pada kita”

Tentang kenangan-kenangan itu, aku menemukan roh ibu kembali hidup. Pada secangkir kopi tua tempat ia menyeduh kopi dengan cinta, menghidangkan segala sayang tanpa pamrih, juga aroma kasih yang mengepul menggisi rongga dada. Hingga hidup kami mendapatkan kepenuhan cinta Ibu tanpa tata. Pada cangkir itu selalu membekas senyumnya.

Selepas kuteguk manis kopi aku tersenyum menatap adikku, sebagaimana senyum ramah Ibu mengajak menyeruput dengan riang. Adikku perlahan menghapus air matanya dan kembali tersenyum manis “Tuhan itu baik”.

Baca Juga  Warga Murnaten dihajar pemuda Lisabata

Maafkan aku yang tidak bersyukur ini. Hidup memang penuh rahasia, akan ada banyak kisah yang akan kita lewati, jangan pernah menyalahkan Tuhan atas hal buruk apapun itu. Dan hari ini adalah hari terakir di penghujung tahun 2020, kami bersyukur Ibu meninggalkan banyak kenangan baik yang tidak akan terlupakan. Bersama secangkir kopi di gelas tua peninggalan Ibu, kami menitipkan rindu yang hangat untuknya di atas sana. (*)

Kupang, 31 Desember 2020