Oleh: Heppy Leunard Lelapary, Wakil Ketua Saniri Negeri Hative Besar
Tulisan ini didedikasikan kepada Pela Negeri Hative Kecil yang pada hari ini, Kamis, 27 Juli 2023 melaksanakan ritual adat Panas Pela yang melibatkan Negeri Hitumessing, Hative Besar, Negeri Haria dan Galala serta Peresmian Rumah Adat Baileo Negeri Hative Kecil. Tulisan inipun didedikasikan kepada segenap masyarakat kedua Negeri Hative Besar maupun Hative Kecil, terkhusus kepada generasi muda jojaro dan mungare kedua negeri gandong agar ikatan kultural ini tetap terjaga serta dilestarikan.
Asal-Usul Negeri Hative Kecil
Berdasarkan tuturan orang tatua nama Negeri Hative yang artinya Berani atau Pandai. Negeri Hative dulunya terdiri atas 5 (lima) soa, yaitu:
- Soa Salahitu
- Soa Patikulipang
- Soa Sariman
- Soa Mamputty
- Soa Lereng
Kelima soa tersebut dipimpin atau diperintah oleh Kapitan Upu Latu Parinussa yang berdiam dalam Soa Salahitu. Anak laki-lakinya bernama Kapitan Mahudum. Datuk-datuk Hative berasal dari Negeri Tuban Jawa Timur, mereka datang bersama-sama dengan datuk-datuk dari Negeri Halong dalam sebuah kora-kora dan singgah di Pandan Kasturi. Nama datuk-datuk Hative ialah Latu Parinussa, Kaya Fula, Kaya Daud dan Nyai Mas.
Nyai Mas mempunyai seekor burung Nuri atau Kasturi. Sebagai adat dan perhiasan Nyai Mas memakai bunga rampai pada kondenya. Bunga rampai terdiri atas daun pandan. Setibanya datuk-datuk Negeri Hative di tepi Pantai maka burung Nuri atau Kasturi Nyai Mas itu terbang. Oleh karena itu tempat itu dinamakan Pandan Kasturi. Kora-kora pembawa datuk-datuk itu meneruskan perjalanan hingga tiba di Negeri Halong tempat persinggahan kora-kora itu dinamakan Batu Kora. Setelah tinggal beberapa lama di Pandan Kasturi, mereka melanjutkan perjalanannya dan tiba di Halong Batu Kora yang sekarang dikenal dengan nama Halong. Nama Batu Kora merupakan nama perahu yang mereka tumpangi.








