Tidak Menegasi dan Tidak Melebur
Dia merasa sepenuhnya berada dalam kesepahaman tentang bagaimana keterbukaan Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan.
“Saya mendalami kajian-kajian pluralisme dan saya menyukai konsep pluralitas yang bersifat dialegtika. Relasi antara elemen berbeda tidak saling menegasi tetapi juga tidak saling melebur. Sikap relasinya komplementer. Saling menguatkan,” paparnya.
“Analoginya sering saya pakai seperti halnya tali-temali yang menyatu dan bersinergi secara kuat, tetapi tidak saling melebur,” tambahnya.
Kemajemukan Sekolah Muhammadiyah
Menurutnya yang menjadi pertanyaan apakah lembaga pendidikan bisa menjadi tempat untuk menyemai dan mengelola gagasan-gagasan kemajemukan.
“Di buku Mas Mu’ti mempertegas hal itu. Saya melihat langsung mengelola kemajemukan di sekolah Muhammadiyah di Papua, NTT dan tempat lain,” ungkapnya.
“Sekalipun demikian saya punya pengalaman tentang sekolah Muhammadiyah di Ambon. Dia menerima baik siswa maupun guru beragama Kristen. Sekolah ini saat konflik Ambon terbakar, tetapi pascakonflik 99 sekolah ini menjadi salah satu model inkubasi dari kurikulum pendidikan orang bersaudara yang dikembangkan pasca konflik,” urainya.
“Saya terlibat dalam inkubasi program ini yang dilakukan berdasarkan kegelisahan karena konflik dan dampaknya. Kami melihat pendidikan harus menjadi pilar penting dalam pengelolaan dan penyemaian konsep-konsep kemajemukan,” tambahnya.




