Siapakah Ali Imran yang Diabadikan Sebagai Nama Surat Al-Qur’an?

oleh -80 views
Ali Imran atau keluarga Imran merupakan salah satu keluarga yang dimuliakan Allah hingga namanya diabadikan sebagai nama surat ketiga dalam Al-Quran. Foto ilustrasi/tangkapan Channel Islam Madaniyah

Ali Imran (آل عمران) atau Aali ‘Imran merupakan nama surat ketiga dalam Mushaf Al-Qur’an. Ali Imran artinya keluarga Imran. Siapakah keluarga Imran yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an?

Untuk diketahui, Surat Ali ‘Imran terdiri 200 ayat dan termasuk golongan Surat Madaniyyah. Dinamakan Ali ‘Imran karena memuat kisah keluarga ‘Imran yang di dalamnya diceritakan kisah kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam bin Maryam. Surat Ali ‘Imran dan Al-Baqarah dinamakan Az-Zahrawaani (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keutamaan membaca dan mengamalkan Surat Ali Imran disebutkan An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

يُؤْتَى يَوْمَ القِيَامَةِ بِالقُرْآنِ وَأهْلِهِ الَّذِيْنَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ فِي الدُّنْيَا تَقْدُمُهُ سُوْرَةُ البَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ ، تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

Artinya: “Pada hari Kiamat, Al-Qur’an akan didatangkan dan juga para ahlinya yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia. Didahului oleh Surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, keduanya menjadi hujjah bagi orang yang membacanya.” (HR Muslim)

Keistimewaan Keluarga Imran
Dalam satu kajian Gus Musa Muhammad menerangkan keistimewaan keluarga Imran yang namanya diabadikan menjadi surat ketiga Al-Qur’an. Dalam Kitabullah, nama Keluarga Imran tertera dalam Surat Ali Imran karena keluarganya mempunyai keutamaan, yaitu: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan Keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS Ali Imran Ayat 33-34)

Baca Juga  Real Count KPU 35% Suara Pileg DPRD Maluku: Golkar Berpotensi Kehilangan Kursi Pimpinan

Keluarga Imran dinisbatkan kepada seseorang yang bernama Imran bin Matsan bin al-Azar bin Sahim bin Misyam bin Hizkil bin Ahrif bin Au’am Izazaya bin Amsaya bin Nawas bin Nausa bin Sulaiman bin Daud bin Yehuda bin Lewi bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihissalam.

Nasab di atas hanya secara global, jadi bisa lebih panjang sebab estimasi kurun jeda dari Nabi Daud ke Imran kurang lebih 1.800 tahun. Namun begitu usia orang-orang terdahulu panjang-panjang. Imran menikah dengan Hannah. Hannah binti Faqudz merupakan saudara dari Asy-ya (orang Nasrani meyebut Elizabeth) yang menjadi istri Nabi Zakaria ‘alaihissalam.

Dari perkawinan Imran dan Hannah lahirlah Maryam. Beliau adalah wanita ahli ibadah dan suci. Ia merupakan ibu dari kalimat Allah, Nabi Isa ‘alaihissalam. Terjadi khilaf di antara para mufasirin apakah Asy-ya kakak dari Siti Maryam atau Bibinya. Sementara Ibnu Katsir dalam Bidayah Wan Nihayah mengambil pendapat Asy-ya merupakan adik dari Hannah yang berarti Asy-ya bibi dari Maryam. Dari Nabi Zakaria dan Asy-ya ini nanti lahir Nabi Yahya.

Ketika mengandung Maryam, usia Hannah sudah memasuki masa “menapouse”, masa di mana wanita secara medis sudah tidak bisa mengandung, namun Allah berkehendak. Dalam kebahagiaan keluarga Imran yang menanti kelahiran sang anak, Imran wafat sebelum masa kelahiran anaknya.

Dengan adanya kejadian ini, ia merasakan kesedihan yang mendalam. Akan tetapi, Hannah tetap selalu bersabar dalam merawat janin yang ada dalam kandungannya. Hannah menginginkan anak laki-laki, sebab khawatir banyak hal tabu masyarakat saat itu yang menganggap perempuan hanya akan mengotori masjid ketika menjadi “khadam” (orang yang megabdi, melayani di tempat ibadah). Terutama saat sedang datang bulan atau haid. Sehingga Hannah berharap memiliki anak laki-laki untuk menjadi khadam.

Baca Juga  Real Count KPU 38% DPR RI Dapil Malut: PAN Geser NasDem dari Kursi Terakhir

Sepeninggal Imran, Hannah hijrah ke Al-Quds, ke tempat Nabi Zakaria, sebelum keberangkatannya Hannah berdiri dari mihrabnya seraya berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku (untuk) menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah nazar itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Allah berkehendak lain dengan “harapan” Hannah, ia melahirkan seorang berjenis kelamin perempuan. Karena anak yang lahir perempuan, maka ada kegelisahan yang muncul dalam diri Hannah. Sebab, dirinya telah menazarkan jika anak yang ia lahirkan nantinya akan dijadikan khadam pada Bait Al-Muqaddas.

Kisah Hannah istri Imran setelah anaknya lahir perempuan memang selalu merasa kecewa dan khawatir. Namun, ia juga telah menazarkan anaknya nanti secara mutlak, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai khadam. Pantas saja Hannah merasa khawatir sebab sebelumnya “belum pernah ada perempuan” yang menjadi seorang khadam.

Meskipun sebelumnya tidak ada khadam perempuan, namun ternyata Allah menerima kehadiran putri yang Hannah lahirkan, yaitu Maryam, yang kelak menjadi seorang khadam Masjid Bait al-Muqaddas.

“Maka ketika melahirkannya, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.’ Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. “Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.” (QS Ali Imran Ayat 36)

Baca Juga  Polda Malut Gelar Apel Konsolidasi untuk Evaluasi Pengamanan Pasca Pemungutan Suara

Mulai saat itu, Hannah telah ridha memiliki anak perempuan dan ia mencintai apa yang sudah Allah karuniakan padanya. Semenjak usia 6 tahun Maryam kemudian dalam asuhan dan penjagaan Nabi Zakaria dan berkhidmat sebagai khadam, sebagaimana firman Allah berikut:

Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS Ali Imran Ayat 37)

Keutamaan Maryam, Ibunda Nabi Isa
Keutamaan Maryam sebagai wanita yang sempurna dalam hal ibadah dikarenakan ia tidak pernah haid seperti umumnya wanita. Tentu syarat berdiam diri di masjid dalam keadaan suci bagi wanita terlebih Maryam merupakan khadam di tempat ibadah. Maryam adalah wanita ahli ibadah dan suci. Ia merupakan ibu dari kalimat Allah, Nabi Isa ‘alaihissalam.

Putri Imran adalah wanita sempurna sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah ﷺ : “Lelaki yang sempurna jumlahnya banyak. Dan tidak ada wanita yang sempurna selain ‎Maryam bintu Imran dan Asiyah istri Firaun. Dan keutamaan Aisyah dibandingkan ‎wanita lainnya, sebagaimana keutamaan ats-Tsarid dibandingkan makanan lainnya.” (HR Al-Bukhari, Muslim)

Wallahu A’lam

No More Posts Available.

No more pages to load.