Soal Sitaan Rp 52 Miliar, KPK Buka Kemungkinan Panggil Sekjen KKP Antam Novambar

oleh -108 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: KPK menyebut Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Antam Novambar mendapat perintah dari Edhy Prabowo saat menjabat Menteri KKP untuk membuat surat perintah tertulis terkait mengumpulkan uang Rp 52,3 miliar untuk Bank Garansi. Uang untuk Bank Garansi itu diduga berasal dari para eksportir benih lobster atau benur yang telah mendapatkan izin dari KKP.

“Dia (Antam) mendapatkan perintah dari tersangka EP (Edhy Prabowo) untuk membuat perintah secara tertulis,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Senin (15/3/2021).

Ali belum membeberkan dugaan keterlibatan Antam dalam perbuatan suap ekspor benur Edhy Prabowo dkk. KPK, kata Ali, akan mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

“Tentunya nanti akan kami konfirmasi lebih lanjut kepada para saksi apakah kemudian ada unsur kesengajaan misalnya dalam konstruksi secara keseluruhan proses di dalam dugaan korupsi seluruh peristiwa yang ada di perkara ini,” ucap Ali.

Link Banner

“Karena yang terpenting uang telah dilakukan penyitaan dan akan dikonfirmasi kepada para saksi, saksinya siapa yang nanti akan dipanggil untuk dikonrfirmasi dan barang bukti ini nanti akan kami sampaikan lebih lanjut,” tambahnya.

Baca Juga  Oksana Neveselaya, Selebgram Asal Belarusia yang Jago MMA

Seperti diketahui, uang senilai Rp 52,3 miliar disita penyidik KPK yang diduga berkaitan dengan kasus dugaan suap dalam pemberian izin ekspor benih lobster atau benur. Uang itu diduga berasal dari para eksportir yang telah mendapatkan izin dari KKP.

“Hari ini tim penyidik KPK melakukan penyitaan aset berupa uang tunai sekitar Rp 52,3 miliar dari Bank BNI 46 cabang Gambir yang diduga berasal dari para eksportir yang telah mendapatkan izin dari KKP untuk melakukan ekspor benih bening lobster tahun 2020,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (15/3/2021).

Dari pantauan di lokasi, tampak 2 mobil mengangkut uang yang telah dikemas di dalam kantong plastik bening. Satu kantong plastik tersebut berisi Rp 1 miliar, total kurang-lebih ada 52 plastik yang membungkus uang sebesar Rp 52,3 miliar tersebut.

Baca Juga  Suman-Bassam Resmi Kantongi Rekomendasi B1 KWK dari PKB

Menurut Ali, Edhy Prabowo saat menjabat Menteri KKP memerintahkan sekjen di KKP agar mengumpulkan uang tersebut untuk Bank Garansi.

Dalam kasus dugaan suap ekspor benih lobster, total ada tujuh tersangka yang ditetapkan KPK, termasuk Edhy Prabowo. Enam orang lainnya adalah Safri sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Andreau Pribadi Misanta sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Siswadi sebagai pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Ainul Faqih sebagai staf istri Edhy Prabowo, Amiril Mukminin sebagai sekretaris pribadi Edhy Prabowo, serta seorang bernama Suharjito sebagai Direktur PT DPP.

Dari keseluruhan nama itu, hanya Suharjito yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap, sisanya disebut KPK sebagai penerima suap.

Baca Juga  Kota Ambon Siap Lakukan Vaksinasi Covid-19 Tahap Pertama

Secara singkat, PT DPP merupakan calon eksportir benur yang diduga memberikan uang kepada Edhy Prabowo melalui sejumlah pihak, termasuk dua stafsusnya. Dalam urusan ekspor benur ini, Edhy Prabowo diduga mengatur agar semua eksportir melewati PT ACK sebagai forwarder dengan biaya angkut Rp 1.800 per ekor.

Dari nama-nama tersangka di atas, Suharjito tengah menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. Dia didakwa memberi suap ke Edhy Prabowo sebesar Rp 2,1 miliar terkait kasus ekspor benur.

(red/dtc)