Ia membayangkan ruang kafe itu dua ratus tahun silam.
Lampu-lampu minyak menyala.
Para pejabat kolonial berdansa bersama perempuan-perempuan muda.
Gelak tawa memenuhi ruangan.
Gelas-gelas anggur beradu.
Sementara jauh di Ternate, Tidore, Saparua, Jawa, dan Sumatra, orang-orang bekerja sejak matahari belum terbit hingga gelap kembali turun.
Kopi yang kini ia minum mungkin dahulu dipetik oleh tangan-tangan yang bahkan tak pernah sempat mencicipinya.
Gula yang larut dalam cangkir mungkin berasal dari ladang yang dibangun di atas penderitaan.
Sejarah, pikir Aldo, kadang tidak berteriak.
Ia hanya bersembunyi dalam rasa.
****
Di meja sebelah duduk sepasang wisatawan asing.
Mereka sibuk memotret dinding tua, menikmati kopi, lalu tertawa kecil ketika membaca menu yang menggunakan istilah Belanda.
Aldo tak menyalahkan mereka.
Kota ini memang cantik.
Bangunan-bangunan kolonial telah berubah menjadi museum, galeri, dan kafe yang ramai dikunjungi.
Sejarah bisa dipoles menjadi destinasi.
Tetapi siapa yang mengingat orang-orang yang membangunnya dengan peluh dan nyawa?
Ia menutup buku catatannya.
Belum satu kalimat pun ditulis.
Sebab semakin lama duduk di sana, ia merasa sedang mendengar suara-suara yang tak tercatat dalam arsip.










