Negara ini lagi-lagi kembali menampilkan wajah lamanya: kekuasaan yang semakin gemuk, rakyat yang semakin lapar, dan elit yang semakin lihai menari di atas luka bangsa.
Dan ketika semua itu terjadi, akal sehat Bung Rocky justru seperti tertidur — mungkin tengah mimpi indah, sedang dikitari para bidadari yang menaburkan bunga di taman kekuasaan.
Ah, Bung Rocky…
Bukankah Anda pernah berkata, “Berpikir itu menyakitkan?”
Mungkin karena itu kini dikau lebih memilih untuk tidak berpikir, agar hidup terasa lebih tenang — tanpa luka, dan tentu tanpa risiko.
Tapi sejarah tak pernah ramah pada mereka yang memilih diam ketika kata dibutuhkan.
Karena dalam setiap zaman, selalu ada yang harus tetap menyalakan nyala, meski sendirian, meski tak lagi populer.
Dan jika benar akal sehat masih bersemayam dalam diri Bung Rocky, mestinya ia kini sedang berteriak dari dalam: Bangunlah — sebelum republik ini kembali tenggelam dalam kebodohan yang dulu kau sendiri lawan. **









